Menertawakan Meme, Menertawakan Kita - Tribun Jateng

9:01:00 AM

Opini ini ditulis oleh Toto Subandriyo,Penggagas Komunitas B@ca Tulis ( B@tu ) Kabupaten Tegal

TRIBUNJATENG.COM - Saat ini media sosial (medsos) pantas dinobatkan menjadi pilar kelima demokrasi, setelah eksekutif, legislatif, yudikatif, dan pers. Makna demokrasi, dari, oleh, dan untuk rakyat, benar-benar mengejawantah di medsos. Semua komunikasi berbentuk gambar atau tulisan melalui medsos cepat sekali menyebar dan cepat mendapat tanggapan netizen lainnya. Bentuk komunikasi melalui medsos yang saat ini banyak digemari para netizen antara lain berupa meme (baca: mim).

Meme hadir dalam bentuk gambar, video, pranala (hyperlink), laman web, tagar (hashtag), atau hanya sekadar kata-kata/ungkapan. Semua sendi kehidupan, mulai dari hal yang remeh temeh menyangkut kehidupan sehari-hari, hingga menyangkut ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, semua bisa menjadi konten meme. Saat kita menertawakan meme yang berisi konten gambar atau tulisan sindiran, parodi, satire, atau hal-hal lucu yang disampaikan secara nyinyir, artinya kita sedang menertawakan permasalahan hidup keseharian kita.

Replika

Istilah meme pertama kali diperkenalkan oleh Richard Dawkins pada 1976. Istilah itu mengacu pada mutasi sebuah gen dalam mereplikasi dan menggandakan diri. Menurut Dawkins, meme merupakan bentuk transmisi budaya melalui replikasi ide/gagasan yang merasuk ke dalam kognisi manusia. Proses penciptaan meme melalui replikasi dan modifikasi dari foto/gambar/video yang dilengkapi teks berbagai macam pesan. Konten dan isi meme biasanya terkait peristiwa yang tengah hangat.

Toto Subandriyo,Penggagas Komunitas B@ca Tulis ( B@tu ) Kabupaten Tegal Toto Subandriyo,Penggagas Komunitas B@ca Tulis ( B@tu ) Kabupaten Tegal (TRIBUN JATENG)

Seperti yang terjadi beberapa hari terakhir ini, foto Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto yang sedang terbaring di rumah sakit menjadi viral di jagad maya. Dalam foto tersebut, Setya Novanto terlihat sedang tidur, di tubuhnya terpasang infus dan bantuan alat pernapasan. Saat itu terlihat seorang kolega tengah menjenguknya. Akibat sakit, pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap dirinya sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan proyek kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP) menjadi tertunda.

Kemunculan foto Novanto yang tengah berbaring lemah di rumah sakit itu tidak serta merta membuat para netizen merasa empati. Mereka justru menjadikan foto itu sebagai guyonan dalam bentuk meme. Ada yang mengedit gambar alat bantu pernafasan menjadi topeng Bane, tokoh fiksi lawan dari Batman. Ada pula yang menambahkan kata-kata “Semoga PAPA cepat sembuh” pada foto tersebut, meme ini mengingatkan kita pada kasus “PAPA Minta Saham” yang juga menyeret nama Novanto.

Ada meme lain yang menunjukkan foto pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, sedang melihat foto Setya Novanto yang tengah berbaring sakit melalui layar monitor kecil di hadapan mereka. Namun, dalam meme ini Kim Jong Un tidak sedang menunjukkan rasa simpati terkait keadaan Novanto. Kim dan tentara pengawalnya justru terlihat sedang menertawakan dan menunjuk-nunjuk foto di monitor.

Kritik Sosial

Netizen bisa dengan mudah membuat meme dari permasalahan hidup sehari-hari. Terkait masalah gaji, misalnya, ada yang menulis dalam meme begini “Gajian bagaikan menstruasi, 1 bulan 1x, 1 minggu abis”. Ada juga meme: “Kalo udah tanggal segini jadi sereeemmm..., seisi dompet bawaannya golok semua” dengan ilustrasi foto dompet berisi beberapa lembar uang kertas seribuan bergambar Pahlawan Pattimura membawa golok. Biasanya meme ini di-upload pada tanggal tua saat kantong sudah kosong. Ada meme yang menyindir kaum istri dengan nyinyir: “Sesibuk apapun seorang istri, tak akan pernah lupa kapan suaminya gajian”.

Pengguna medsos kebanyakan adalah kaum muda, jadi tidak heran jika konten-konten meme banyak menyangkut kehidupan mereka, seperti tentang status jomblo serta tentang pacar (gebetan). Seperti meme-meme berikut: “Jomblo itu ada 3, jomblo selektif, jomblo ga laku, yang bahaya tipe ke3: jomblo sudah gak laku sok selektif”. Meme tentang pacar: “Cuma di FTV Sopir bisa dijadiin gebetan, di dunia nyata gebetan dijadiin Sopir... “. Bagi yang pacaran cepat putus, disindir dengan meme: “Itu pacaran apa paket kuota internetan ya...kok hanya sebulan”.

Kehadiran sebuah meme acapkali menandai terjadinya sebuah peristiwa yang cukup menyita perhatian publik. Saat ramai-ramainya kasus Jesica tentang kopi sianida, di medsos banyak bermunculan meme dengan ilustrasi foto Jesica bertuliskan: “Bang...ngopi yuk, eneng yang traktir...”. Ada lagi: “Jesica sidang terus...kapan wisudanya?”. Ketika Jonru Ginting ditetapkan polisi sebagai tersangka ujaran kebencian langsung disambut netizen dengan meme: “Kita sambut yang mulia...Kim-Jon Ru” dengan ilustrasi foto Kim Jon Un yang wajahnya diganti dengan wajah Jonru Ginting.

Meme seringkali juga digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial. Saat harga cabai merah melejit hingga ratusan ribu rupiah, di facebook muncul meme: “Bahagia itu sederhana, bisa nyongkel selilit biji cabe juga udah bahagia!”. Ketika demonstrasi marak terjadi, muncul meme: “Di negeriku sekarang Jalan Musyawarah sudah sangat sepi” dengan ilustrasi foto situasi sepi di jalan yang bernama Jalan Musyawarah lengkap dengan papan nama Jalan.

Meme juga sering untuk menumpahkan keluh-kesah seperti ini “Ya Allah...jauhkanlah aku dari ibu-ibu yang lampu sein motornya ke kiri, tapi beloknya ke kanan...”. Banyak juga meme berbahasa daerah seperti “watuk esih biso diobati, tapi watak nganti sak modare ora biso mari...”. Ah sudahlah, “omonganmu kaya sega goreng dikareti loro, pueedeeesss...banget! (tribunjateng/cetak)



from sidang kopi sianida - Google News http://ift.tt/2fSmP7e
via IFTTT

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »