JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sepanjang 2016, virus Zika merebak di berbagai negara, termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura. Virus Zika adalah sejenis virus yang menjangkiti manusia dan disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Virus ini dapat ditularkan dari ibu hamil kepada bayinya selama kehamilan. Nyamuk pun bisa terinfeksi Zika bila menghisap darah seseorang yang telah terjangkit. Nyamuk yang terinfeksi lalu bisa menyebarkan virus ke orang lain. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahkan meminta masyarakat, terutama ibu hamil, untuk berhati-hati ketika bepergian ke luar negeri.
Gejala yang dirasakan oleh orang yang terindikasi virus Zika yakni mata merah, sakit kepala, demam mendadak dan lemas. Indikasi lainnya juga kemerahan pada kulit badan, serta nyeri otot dan sendi. Penderita virus Zika diharuskan untuk istirahat yang cukup, minum cairan untuk mencegah dehidrasi.
Zika merupakan penyakit ringan yang umumnya tidak disadari oleh penderita. Tapi selama dua tahun terakhir gelombang bayi yang lahir dengan ukuran kepala yang sangat kecil di Hemisfer Barat menunjukkan kepada dunia virus Zika sangat berbahaya.
Virus itu pertama kali ditemukan di Uganda lebih dari 60 tahun lalu. Disebarkan oleh nyamuk dan hubungan seksual. Virus itu baru-baru ini muncul di Brazil kemudian menyebar ke utara. Ada kasus yang ditemukan di Florida. Pejabat kesehatan di Texas prihatin virus itu kemungkinan menyebar di sana.
Dr. Anthony Costello dari WHO mengatakan bahkan satu anak saja yang menderita punya dampak besar pada sumber daya komunitas dan kemampuan keluarga untuk menghadapinya.
"Virus itu adalah masalah kesehatan masyarakat yang menjadi keprihatinan besar dunia. 69 negara telah terkena virus Zika dalam dua tahun terakhir. Kita berbicara mengenai virus yang menyebabkan kerusakan otak dan berpotensi cacat seumur hidup yang menjadi pukulan berat bagi keluarga,” papar Costello.
Tidak ada vaksin untuk melawan Zika, tapi mungkin ada satu yang akan tersedia pada tahun 2018.
Kendati demikian, November 2016, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa virus Zika tidak lagi menjadi darurat kesehatan publik dunia, namun lembaga itu menekankan perlunya respon jangka panjang untuk penyakit yang dibawa nyamuk tersebut.
"Virus Zika tetap menjadi masalah yang sangat signifikan dan jangka panjang, namun tidak lagi merupakan darurat kesehatan publik yang menjadi kekhawatiran internasional," menurut komite darurat lembaga kesehatan PBB itu.
Brazil, yang telah menghadapi krisis Zika terburuk, mengatakan bahwa negara itu akan mempertahankan status darurat.
Meskipun virus Zika menyebabkan gejala-gejala ringan pada sebagian besar orang, perempuan-perempuan hamil yang terinfeksi berisiko melahirkan bayi-bayi dengan mikrosefalus, yang ditandai dengan kepala yang kecil tidak normal dan perkembangan otak yang terganggu.
Lebih dari 2.000 bayi yang lahir dengan mikrosefalus sejak tahun lalu, sebagian besar di Brazil.
WHO awalnya mendeklarasikan epidemi Zika sebagai darurat kesehatan global pda Februari 2016.
Selain mikrosefalus, virus Zika juga dapat menyebabkan masalah syaraf langka pada orang dewasa, seperti Sindrom Guillain-Barre.
Meski di belahan bumi dilanda virus Zika, di Indonesia tidak ada kasus yang terlaporkan karena virus Zika. Sebelumnya, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, sempat mengatakan bahwa suku anak dalam (SAD) di Jambi terinfeksi virus Zika.
Namun hal itu dibantah oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Andi Pada.
"Tentang SAD terjangkit virus zika itu tidak benar, karena penelitian itu sebelumnya hanya meneliti SAD yang terkena wabah malaria dan hepatitis B, jadi bukan zika," kata Andi Pada, di Jambi, Rabu (7/9/2016).
Dia menjelaskan, pada tahun 2014 lalu, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman melakukan penelitian penyakit demam berdarah di kota Jambi yang saat itu menjadi kejadian luar biasa (KLB).
"Jadi pernah juga ditemukan pada seorang warga di Kota Jambi, tapi itu secara kebetulan dan ditemukan pada 2014 dan kemudian disampaikan pada 2015 saat semuanya sedang heboh. Jadi ini yang membuat khawatir masyarakat," katanya.
Namun demikian, pihaknya telah menyampaikan kepada Kementerian Kesehatan bahwa virus Zika sampai saat ini belum ditemukan di Provinsi Jambi.
"Kita tidak bisa bilang Zika tidak ditemukan di Jambi, tapi kita bilang sampai saat ini belum ditemukan, karena memang belum dilakukan pemeriksaan yang memang benar-benar terkait virus Zika," katanya.
Lalu upaya apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah penyebaran virus Zika? Kemenkes menyarankan masyarakat untuk melakukan 3M Plus, yakni menguras, menutup, memanfaatkan barang bekas dan plus kegiatan pencegahan.
from virus zika - Google News http://ift.tt/2hbewlS
EmoticonEmoticon